
PASURUAN – Keuletan dan semangat pantang menyerah ditunjukkan oleh Musholli (24), pemuda asal Dusun Lodoh, Desa Kalirejo, Kecamatan Gondangwetan, Kabupaten Pasuruan. Berawal dari seorang pekerja serabutan di usaha milik tetangga, anak ketiga dari pasangan Pak Kosim dan Bu Umyana ini kini sukses mengelola toko online sparepart motor dengan omzet mencapai Rp35 juta per bulan.
Berawal dari “Iseng” dan Belajar Otodidak
Perjalanan bisnis Musholli tidaklah instan. Memulai langkah pada awal 2021, ia awalnya hanya bertugas sebagai tukang packing dan kurir barang milik juragannya di kampung. Sambil bekerja, ia mencermati cara pemasaran dan jenis-jenis onderdil motor.
Rasa penasaran membawanya belajar secara otodidak melalui YouTube. Dengan modal kepercayaan, ia meminjam barang dari juragannya untuk dijual kembali secara mandiri. Mengusung nama Busana Motor Official, Musholli mulai merambah dunia marketplace.
“Awalnya sebulan hanya satu orang yang beli. Selama dua tahun pertama, paling banyak hanya lima pembeli dalam sebulan. Tapi saya tidak putus asa karena ini satu-satunya tumpuan ekonomi keluarga,” kenang Musholli.

Titik Balik dan Peran Pendampingan LMI
Kesabaran Musholli membuahkan hasil. Memasuki tahun 2024, rating tokonya melonjak hingga mencapai angka 4.8. Momentum besar terjadi pada Oktober 2024 saat Lembaga Manajemen Infaq (LMI) menyalurkan bantuan modal usaha sebesar Rp2.050.000.
Bantuan tersebut ia putar untuk stok barang hingga penjualannya meledak. Saat ini, Musholli mencatat statistik yang luar biasa:
- Total Pelanggan: Mencapai 900 orang.
- Volume Penjualan: Tembus 3.000 pieces setahun terakhir.
- Omzet: Sekitar Rp35.000.000 per bulan.
- Profit Bersih: Rata-rata Rp5.000.000 per bulan.
Kini, ia tidak lagi bekerja sendiri. Musholli telah mempekerjakan dua orang karyawan untuk membantu bagian packing dan pengantaran guna melayani rata-rata 30 pesanan setiap harinya.

Dukungan Fasilitas dan Rencana Ekspansi
Pada 23 Desember 2025, LMI kembali memberikan dukungan berupa rak stok barang untuk mempermudah manajemen gudangnya. Musholli mengaku bantuan tersebut sangat membantu efisiensi kerja.
Meski sukses, ia mengaku tantangan bisnis tetap ada, termasuk menghadapi pembeli nakal atau penipuan. “Saya terima dengan ikhlas sebagai risiko usaha. Fokus saya sekarang adalah terus menaikkan omset,” ujarnya optimis.
Tak berhenti di sparepart, Musholli berencana mengekspansi bisnisnya ke sektor sembako dan potensi lokal lainnya. Ia juga mulai rutin berinfaq dari penghasilannya sebagai wujud syukur dan pembelajaran diri untuk berbagi kepada sesama yang membutuhkan.
“Terima kasih LMI yang sudah hampir setahun mendampingi, mengajak diskusi, dan memberi semangat. Maju sama-sama, keren sama-sama,” tutupnya dengan senyum.
